Bocor! ini Rekaman PNS Cantik Yang Dibunuh, Ternyata Si Cantik Sering Pukuli Suami?

Muhammad Aziz saat ditangkap atas kasus pembunuhan istrinya Indria Kameswari pegawai BNN

Republik.in ~ Dilansir dari kumparan.com, Muhammad Akbar alias Abdul Malik menjadi tersangka kasus pembunuhan terhadap istrinya sendiri, Indria Kameswari seorang PNS Badan Diklat BNN Lido. Polisi mengungkapkan jika Akbar mengaku nekat mengakhiri hidup sang istri yang dikenalnya lewat facebook itu, lantaran sering cekcok rumah tangga.

Kakak Akbar, Siti Nuraeni saat mendatangi Polres Bogor pada Senin (4/9) menuturkan, semasa hidup Indria lah yang sering memukuli Akbar. Bahkan dia sempat memergoki kondisi Akbar babak belur penuh lebam karena dipukuli oleh Indria.

"Awalnya itu, sering banget adik saya itu dipukul sama Ibu Indria," kata Siti.

"Adik saya memar-memar sini, sini memar-memar, semuanya pada bengkak-bengkak karena pemukulan," lanjutnya.

Kala itu, Siti membantu Akbar untuk melakukan visum. Namun, saat akan dilaporkan ke polisi dan Komite Aparatur Sipil Negara (KASN), Akbar menolaknya. Siti mengatakan Akbar menolak lantaran masih ingin berumah tangga dan cinta dengan Indria.

"Kok seorang PNS memperlakukan suaminya seperti ini, seperti sopir, bahkan sopir ini derajatnya lebih tinggi pak, adik saya diperlakukan seperti binatang. Sering banget Ibu Indria ini mukul hajar, mukul hajar," kata Siti.

Selain itu, Indira disebutnya juga penah mengancam ingin membunuh Akbar. "Sering diancam, 'saya ini petugas BNN, punya pistol, saya akan bunuh kamu' gitu," tambahnya.

Indria semasa hidupnya kerap meminta uang banyak ke suaminya. Siti mengatakan bahkan rumah ibunya (mertua Indria) digadaikan untuk memenuhi keinginan tersebut.

"Pokoknya dia kalau minta tu minta uang, kalau minta uang harus, sampai utang mamanya juga yang Rp 150 juta suaminya harus bertanggungjawab," kata Siti.

Saat di Polres Bogor, Senin (4/9), Siti menunjukkan rekaman cekcok yang disebutnya terjadi antara Akbar dan Indria. Rekaman cekcok ini, disebut Siti diambil sekitar Februari 2017. Akbar, lanjut Siti, sengaja merekam untuk diberikan kepada kakaknya sebagai bukti.

Sayangnya hanya suara yang terekam jelas, sedangkan visual hanya menampakkan stir mobil. Belum bisa dipastikan apakah benar rekaman ini adalah suara Indria dan Akbar. Perlu pemeriksaan dari pihak kepolisian untuk memastikan rekaman yang diberikan Siti Nuraeni ini ke wartawan.

Berikut suara yang terdengar dari rekaman (kumparan.com):

Suara perempuan: Kaga ada yang buktiin, saya pengen kabur rasanya. Kalau saya tidak ada beberapa hari ini kamu jangan nyari saya. Capek otak saya, saya pengen istirahatin otak saya. Capek otak saya. Sengsara aja, dijanjiin melulu. Mana sekarang mobil mana? Mana mobilnya? Mana mobilnya mana mobilnya sekarang? Kamu buktiin aja enggak. Yang ini, yang itu, ngomong aja semuanya. Coba mana omongan yang terealisasi, mana janji kamu yang terealisasi. Gak ada satu pun.

Suara pria: Ya baru kemarin, jangan dipukul pukul dong.

Suara perempuan: Goblok kamu. Baru kemarin, baru kemarin, dari dulu (makian binatang), dari dulu! Grand Vitara mulu Grand Vitara mulu, mana sampai sekarang! Odong-odong aja lu pake! Kamu gak becus!

Suara pria: Aduh jangan pukul pukul dong!

Suara perempuan: Gak becus juga kamu ah! Kamu becusnya ini odong-odong kamu pake. (makian binatang)!

Suara pria: Ya belum lah pake proses bu.

Suara perempuan: (Makian binatang) kamu proses proses, apa yang kamu proses. Dari kemarin sampai hari ini saya kepengen, mana!! Capek saya ngomong begitu sama kamu. Kamu tuh, saya belum jalan sama orang lain. Awas kamu kalau gue selingkuh harus macem macem kamu sama saya.

Suara pria: Selesaikan pelan pelan-lah.

Suara perempuan: Kamu tabrak saya sekarang awas kamu. Kamu udah bawa saya sengsara (makian binatang)! Lu udah bawa hidup saya sengsara. Saya enggak mau naik odong-odong ini! Saya mampu pakai mobil gede, saya mampu pakai mobil mewah! Saya malu! (Makian binatang). Saya malu hidup sama kamu. Hidup ngontrak! Atap rumah bocor, saya juga yang bayar itu rumah. (Makian binatang). Tahan tahan ribuan kali saya tahan. Kamu pikir saya apa. Saya kerja, saya cantik, saya kerja, kalau kamu?

Suara pria: Ya kan saya cuman menjalani apa yang saya bisa bu.

Suara perempuan: Kamu enggak bisa apa apa (makian binatang)!

Suara pria: Enggak bisa apa apa gimana sih bu. Orang ini kan saya lagi usaha bu.

Suara perempuan: Kebanyakan mikir kamu!

Suara pria: Aduh Ya Allah. Sakit bu.

Suara perempuan: Mobil cepetan (Makian binatang)! Enggak usah nunggu-nunggu si eyang setan. Mana yang ada. Kamu kebanyakan mikir. Mikir DP, bayar ini-itu lah. Berarti kamu enggak mampu (makian binatang).

Suara pria: Bukannya enggak mampu bu tapi kan pakai proses bu.

Suara perempuan: Ya kalau ini diproses gimana (makian binatang). Ini kalau kamu enggak ngasih berkas gimana mau proses (makian binatang).

Suara pria: Ini kan kemarin saya sudah kasih.

Suara perempuan: Bodoh kamu laki-laki (makian binatang). Saya enggak mau hidup sengsara. Saya punya kerjaan (makian binatang). Pikir saya laku sama kamu yang kere ini. Sini saya yang ajuin, saya masih minder sama keluarga dan teman-teman saya. Gara gara malu setan. Ngomong aja kamu. Saya ngomong kamu anggap sampah (makian binatang). Enggak pernah ada realisasi. Suami saya seharusnya tidak begini. Suami saya itu harusnya mampu! Doktor! Direktur! Itu baru suami saya! Odong-odong kamu punya. Kamu pikir saya main-main ya. (makian binatang)! Saya masih ada harga diri buat anak-anak (makian binatang). Saya bertahan karena mereka.

Suara pria: Sama saya juga begitu.

Suara perempuan: Sana pergi kamu, kamu pergi saja. Untuk apa kamu bertahan sama saya. Ngapain kamu bertahan cuman karena anak-anak. Kamu pikir cukup kayak gitu cukup! Rumah mewah, mobil mewah! Udah pakai mobil odong odong. Bodoh kamu! Odong-odong lagi, odong-odong lagi kamu bawa. Saya bekerja, cantik, saya tidak mau berpenampilan seperti pembantu begini!

Suara pria: Saya cuma mampu berusaha. Saya memberikan nafkah sesuai kemampuan saya.

Suara perempuan: Itu namanya enggak mampu! Pergi kamu kalau enggak mampu! Kamu pergi. Enggak sesuai dengan harapan saya. Enggak sesuai sama keinginan saya dasar kamu (makian binatang). Kamu pikir saya enggak malu hidup kayak gini. Malu tau gak (makian binatang)! Saya malu pakai mobil ini! Saya malu! Kamu sudah menjatuhkan harga diri saya di depan semuanya, keluarga dan teman-teman saya.

Suara pria: Astagfirullah.

Suara perempuan: Ah (makian binatang) kamu!

ADA BERITA UNIK DAN MENARIK SCROLL KE BAWAH www.REPUBLIK.in
Sumber Berita : kumparan.com
close
https://t.me/republikin