Bingung Dengan Istilah Rohingya, Arakan, dan Rakhine? Ini Penjelasannya


Republik.in ~ Meski gejolak yang menimpa etnis Muslim minoritas Rohingya telah lama terjadi, namun masih ada masyarakat yang tidak terlalu paham dengan istilah Rakhine, Arakan bahkan Rohingya itu sendiri. Padahal, istilah-istilah itu belakangan kerap bermunculan sejak terjadinya aksi genosida oleh pemerintah Myanmar terhadap Muslim Rohingya.

Istilah Rohingya, berakar dari sebutan untuk orang-orang yang tinggal di daerah “Rohang”. Dimana, Rohang adalah salah satu versi untuk penyebutan daerah Arakan. Namun, istilah Arakan belakangan lebih populer ketimbang Rohang.

Menurut penjelasan Heri Aryanto S.H.,M.H, seorang relawan kemanusiaan yang pernah terjun langsung ke pemukiman Rohingya pada tahun 2013, nama Arakan dikenal memiliki akar kata dari bahasa Arab yaitu rukun. Di mana di dalam Islam, rukun artinya sendi atau pilar agama.

“Dari keterangan dari para ulama Myanmar yang mengatakan kalau Arakan berasal dari kata rukun yang artinya sendi atau pilar dalam Islam itu,” ungkapnya saat wawancara eksklusif dengan kiblat.net pada Rabu (06/09) di Thamrin City, Jakarta.

Keberadaan Muslim Rohingya di Rohang atau Arakan diperkirakan sudah ada sejak abad ke-8 masehi bersamaan dengan datangnya para pedagang Arab. Bahkan, mereka juga pernah dinaungi oleh Kerajaan Islam Arakan, yang berpusat di Mrauk U.

“Pada saat itu, terjadilah perkembangan Islam. Beralihnya para penduduk non-Muslim dalam hal ini Buddha menjadi Islam. Sehingga, Islam semakin berkembang pada masa itu,” sambungnya.

Namun, ketika penjajahan Inggris pada tahun 1823, populasi Muslim Rohingya semakin meningkat. Hal itu disebabkan karena pemerintahan kolonial Inggris saat itu, membuka pintu seluas-luasnya kepada penduduk Bangladesh untuk tinggal dan berococok tanam di tanah Arakan.

“Disana terjadi asimilasi juga antara penduduk Bangladesh dengan penduduk Arakan. Kalau yang sekarang kita lihat secara fisik memang mirip dengan orang-orang Bangladesh. Makanya, orang Myanmar itu menganggap bahwa orang Rohingya ini bukan sebagai bagian dari warga negara Myanmar. Mereka dianggap sebagai suku dari Bengali Bangladesh,” sambung Heri.

Pasca kemerdekaan Myanmar tahun 1947, Arakan ditetapkan sebagai salah-satu bagian dari wilayah negara Myanmar. Akan tetapi, dalam pemerintahan negara yang baru saat itu, nama Arakan tak lagi digunakan. Melainkan, Otoritas Myanmar menggenalkan nama “Rakhine”-yang juga nama salah-satu etnis penganut agama Buddha di sana. Daerah itu kemudian ditetapkan menjadi salah-satu provinsi yang bernama Rakhine State.

“Kemudian waktu berganti waktu, pemerintahan berganti menjadi militer nama Arakan dirubah menjadi Rakhine. Nah, sekarang nama negara bagiannya adalah Rakhine State. Negara bagian Rakhine dengan ibukotanya adalah Sittwe, dulu ibukotanya adalah Akyab (nama lain Sittwe). Nah, Arakan atau Rakhine ini terdiri dari beberapa distrik termasuk didalamnya ada Mangdaw dan sebagainya serta ada juga Sittwe,” pungkasnya.

ADA BERITA UNIK DAN MENARIK SCROLL KE BAWAH www.REPUBLIK.in
Sumber Berita : kiblat.net
close
https://t.me/republikin