Terbuai Janji Pilpres Jokowi, Petani Karet Kini Menyesal, Era SBY Harga 18 Ribu Era Jokowi Cuma 4 Ribu


Republik.in ~ SURAT TERBUKA yang ditulis Woren Krus Topher atas keprihatinan harga karet yang turun drastis di era pemerintahan Jokowi padahal dulu masa kampanye Pilpres dibombardir JANJI harga karet akan NAIK.

Kenyataannya, "Di pemerintahan SBY harga karet ditingkat petani berkisar 12.000-18.000 per/kg, dimasa sekarang hanya 4.000-5000 per/kg jauh dan turun drastis," kata Woren Krus Topher.

Padahal mereka sudah terbujuk rayu dengan JANJI PILPRES sampai warga berbondong milih Jokowi dan menang hingga 72% suara disitu, di Penukal Sumatera Selatan.

Berikut selengkapnya tulisan Woren Krus Topher di akun fb-nya (11/8/2017):

"KAMI TIDAK MEMINTA LEBIH CUKUP KEMBALIKAN KESEJAHTERAAN KAMI"

 
Oleh: Woren K Topher

Di sore itu, saya duduk di sebuah kursi di depan jendela rumah, melihat aktifitas warga yang lalu lalang melintasi jalan raya.

Teringat beberapa tahun silam sebelum pemerintahan saat ini, ketika harga karet masih stabil warga berlomba-lomba membeli kendaraan roda dua maupun roda empat bahkan barang-barang berharga lainnya, berlomba-lomba menyekolahkan anaknya ke kota berharap memperoleh pendidikan yang lebih baik, pasar mingguan yang selalu ramai dikunjungi pembeli dan pedagang. Masyarakat sangat bahagia dan cukup sejahtera saat itu.

Dimasa pilpres 2014, isu dan spanduk bertebaran dimana-mana, kami dijanjikan apabila kalian menjadi pemimpin negeri ini maka harga karet akan dinaikan dan akan menjadi mahal, maka sontak kami selaku orang awam percaya dengan janji dan isu yang beredar.

Di Desa kami Mangku Negara 635 dari 877 suara itu artinya 72,41% memberikan suara kami dan percaya bahwa kalian mampu memimpin negeri ini, di desa sebelah Mangku Negara Timur 415 dari 576 suara 72,05 % juga memberikan suaranya untuk kalian.

Bahkan di Kecamatan kami Penukal 10.299 dari 14.275 suara 72,24% warga kami mempercayai kalian mampu dan bisa meningkatkan kesejahteraan kami selaku warga negara Indonesia.

Di Kabupaten kami yang dulu masih bergabung dengan Muara Enim 210.597 dari 392.950 suara 55,12% warga kami juga percaya kalian akan peduli dengan kami dan berharap kalian akan meningkatkan kualitas perekonomian kami.

Sekali lagi karena janji tersebut kami mempercayai suara kami untuk membuat kalian duduk di kursi terhormat itu.

Sekarang yang terjadi didaerah kami, banyak sekali yang tidak mampu melanjutkan pendidikan ketahap selanjutnya ketika tamat SMA atau sederajat mereka memilih untuk bekerja membantu perekonomian keluarga karena terbatasnya biaya. bahkan perekonomian di desa sungguh sangat memprihatinkan. Dimasa sebelumnya belum pernah ada warga membeli beras /kg sekarang sudah banyak yang melakukan hal tersebut bahkan sistem barter juga dilakukan. Peredaran narkoba dan begal sudah lumrah terjadi, lagi-lagi penyebabnya karena ekonomi, sebab hampir semua orang warga kami menggantungkan kehidupan mereka dari karet.

Bukan bermaksud ingin membandingkan tapi inilah fakta yang terjadi di lapangan, di pemerintahan SBY harga karet di tingkat petani berkisar 12.000-18.000 per/kg, dimasa sekarang hanya 4.000-5000 per/kg jauh dan turun drastis.

Sekarang kami tidak bermaksud menagi janji ataupun meminta lebih, hanya saja kami minta KEMBALIKAN HARGA KARET dan KEMBALIKAN KESEJAHTERAAN KAMI.




ADA BERITA UNIK DAN MENARIK SCROLL KE BAWAH www.REPUBLIK.in
Sumber Berita : facebook.com/WOREN.K.TOFER
close
https://t.me/republikin