Divonis Bersalah Atas Kasus Penghinaan, Ruhut Sitompul Ngotot Merasa Benar


Republik.in ~ Mantan angora DPR RI Ruhut Sitompul akhirnya diputus bersalah oleh Mahkamah Agung atas kasus penghinaan terhadap para aktivis yang dilakukannya sekitar 7 tahun lalu. Ruhut menyebut para aktivis yang menolak rencana pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto sebagai Anak PKI. Mereka yang menggugat Ruhut adalah Judilherry Justam (Petisi 50), M Chozin Amirullah (mantan Ketua PB HMI 2009-2011), almarhum Chris Siner Key Timu (Petisi 50), dan Stefanus Asat Gusma (mantan Ketua PMKRI 2010-2012).

Tepatnya pada tanggal 25 Oktober 2010 Ruhut mengeluarkan pernyataan yang dikutip oleh sebuah media online yang berbunyi: “Yang tak setuju Soeharto jadi pahlawan cuma anak PKI.” Atas pernyataan tersebut para aktivis merasa dilecehkan dan akhirnya mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

MANTAN anggota DPR RI Ruhut Sitompul juga didesak segera menjalankan putusan Mahkamah Agung (MA) bernomor 3316K/PDT/2016 setelah permohonan kasasi yang diajukannya ditolak MA Januari lalu. Selain membayar ganti rugi materiil sebesar Rp131 juta, Ruhut diperintahkan MA untuk meminta maaf secara terbuka melalui dua media nasional.

“Ruhut Sitompul terbukti secara tidak benar dan menyesatkan serta merendahkan martabat dan kehormatan dengan mengeluarkan pernyataan menghina,” ujar Koordinator Pokja Petisi 50 Judilherry Justam dalam konferensi pers di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, kemarin.

Justam merupakan salah satu penggugat dalam kasus pencemaran nama baik yang dilakukan Ruhut Sitompul. Kasus tersebut bermula dari pernyataan Ruhut di sebuah media massa pada 2010 terkait dengan pemberian gelar pahlawan kepada mantan presiden RI Soeharto. Dalam pernyataannya, Ruhut menyebut ‘pihak-pihak yang tak setuju gelar pahlawan (Soeharto) sebagai anak PKI’.

Justam bersama mantan Ketua PB Himpunan Mahasiswa Islam Chozin Ami­rullah dan sejumlah aktivis yang menolak pemberian gelar itu merasa terhina dan menggugat Ruhut ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, tapi ditolak. Dalam upaya banding di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Justam dkk berbalik memenangi gugatan dan diperkuat putusan MA pada 2016 dan 24 Januari 2017 yang menolak upaya kasasi Ruhut.

Dihubungi terpisah, Ruhut mengatakan tidak pernah merasa menghina siapa pun dalam pernyataan yang dikeluarkan pada 2010. Ia pun belum memutuskan menjalankan putusan MA.

“Tidak pernah sekali pun saya merasa melakukan penghinaan terhadap siapa pun. Kalau soal itu (desakan), nanti biar peng­acara saya yang menghadapi. Yang jelas kita masih mempertimbangkan upaya-upaya hukum terhadap (putusan) itu,” ujarnya.

Sementara itu pengacara penggugat Gatot Goei menjelaskan bahwa dengan keluarnya putusan kasasi MA tersebut maka Ruhut wajib membayar ganti rugi materiil serta melakukan permintaan maaf secara terbuka di 2 (dua) media nasional dengan ukuran yang ukurannya ½ halamannya yang isinya:

PERMOHONAN MAAF

Saya Ruhut Sitompul dengan ini memohon maaf kepada Para Pembanding semula Para Penggugat dan Rakyat Bangsa Indonesia atas pernyataan Ruhut Sitompul termaksud dalam berita pada media elektronik www.inilah.com tertanggal 25 oktober 2010 karena tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.”

Pengacara Gatot mewakili kliennya memberikan waktu selama dua minggu kepada Ruhut Sitompul untuk melaksanakan putusan tersebut.

ADA BERITA UNIK DAN MENARIK SCROLL KE BAWAH www.REPUBLIK.in
Sumber Berita : hukum.indopos.co.id dan mediaindonesia.com
close
https://t.me/republikin