Astaga, 3 Sekolah Mati Lampu karena Nunggak Listrik


Republik.in ~ Listrik di tiga sekolah di Jakarta Barat mati diduga karena menunggak membayar taguhan. Hal itu disesalkan Direktur Eksekutif Jakarta Public Service (JPS) M Syaiful Jihad.

"Dinas Pendidikan harus bertanggungjawab dan dikenai sanksi atas kasus ini," ujar Syaiful Jihad, Jumat (28/7).

Syaiful mengatakan, matinya listrik tersebut membuat kegiatan belajar para siswa menjadi terganggu. Kondisi ini semestinya tidak terjadi mengingat anggaran yang diberikan sudah sangat mencukupi.

Pos anggaran untuk pendidikan DKI tahun ini saja mencapai Rp 17 triliun atau 27 persen dari total APBD DKI yang Rp 70,19 triliun. "Bagaimana mungkin dengan anggaran sebesar itu tidak mampu membayar listrik sekolah," kata dia.

Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat juga mempertanyakan masalah listrik yang mati di tiga sekolah di Jakarta Barat. Listrik tersebut mati karena tiga sekolah itu belum membayar tagihan listrik selama 1 bulan.

Biaya operasional sekolah yang digunakan untuk membayar tagihan listrik biasanya cair setiap tiga bulan. Untuk tagihan listrik bulan Juli, anggarannya baru akan cair pada September.

Djarot merasa heran karena hanya 3 sekolah di Jakarta Barat yang mengalami masalah tersebut di Jakarta. Padahal, biaya operasional semua sekolah baru cair pada September.

"Itu enggak bisa, sekolah yang lainnya kok enggak ada masalah? Kok dia ada masalah? Tiga sekolah dari sekian ratus sekolah loh," ujar Djarot.

Kepala Suku Dinas Pendidikan 2 Jakarta Barat Uripasih mengatakan penyebab tunggakan listrik di tiga sekolah adalah belum membayar.

Namun, Uripasih menolak menjawab penyebab hanya 3 sekolah itu yang mengalami pemadaman listrik. "Saya enggak bisa jawab deh yang itu. Saya enggak jawab, kita jawab hanya kenapa sekolah itu diputus (listriknya), karena dia memang satu bulan belum bayar kan di bulan Juli," ujar Uripasih.

Uripasih mengatakan pembayaran listrik biasanya dilakukan oleh pihak sekolah langsung ke PLN. Uripasih membenarkan bahwa tiga sekolah tersebut tidak melakukan transfer ke PLN untuk membayar tagihan listrik.

Namun, Uripasih kembali menolak menjelaskan penyebab hanya 3 sekolah itu yang tidak bisa membayar tagihan listrik, sementara sekolah lain bisa membayar. Uripasih mengatakan hal yang terpenting adalah masalah tersebut sudah selesai.

Tunggakan listrik sudah dibayar dengan menggunakan dana talangan dari Bank DKI. "Kalau kenapa (hanya 3 sekolah), enggak usah (dijawab), yang penting masalah itu sudah ada, sudah ada solusinya, ya sudah selesai," tukas dia dilansir Indopos (Jawa Pos Group).

ADA BERITA UNIK DAN MENARIK SCROLL KE BAWAH www.REPUBLIK.in
Sumber Berita : jawapos.com
close
Banner iklan disini