Perhatian, Melihat Foto Sadis Bom Kampung Melayu Apa Efeknya Pada Anak?


Republik.in ~ Psikiater dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, dr Andri, SpKJ, FAPM, meminta semua pihak jangan menyebarkan foto kejadian bom bunuh diri di Kampung Melayu. Katena hal itu akan membawa trauma bagi keluarga korban

“Adanya share di medsos ataupun whatsapp tentang gambar dan foto korban luka dan meninggal, apalagi tanpa sensor, ini sangat tidak baik dan merupakan tindakan yang tidak menghormati korban dan keluarga korban,” tutur dr Andri, Kamis (25/5/2017).

Ia menjelaskan maksud awal penyebar foto adalah ingin memberitahu ke masyarakat. Namun, hal itu sebetulnya akan membawa ketakutan dan kepanikan

“Penyebaran foto-foto itu tidak hanya memengaruhi psikologis dan tidak menghormati keluarga korban, tapi juga menyebarkan rasa takut dan panik kepada orang lain. Justru inilah yang diharapkan pelaku teror agar masyarakat panik, takut dan bingung,” tandasnya lagi.

“Kita sebagai bangsa Indonesia bisa menghadapinya dengan tenang dan bersatu. Dan juga ini sudah mendekati bulan puasa. Semoga hati kita tetap tenang dan yang berpuasa semoga menjadi berkah buat kita semua,” imbuhnya.

Bagaimana jika foto-foto tersebut dilihat oleh anak kecil? Apa dampaknya?

Seperti yang dilansir dari situs detik.com, menurut Psikolog Anak dan Remaja, Ratih Zulhaqqi, jika anak-anak terpapar isu-isu yang mengarah pada kejahatan atau kekerasan, maka akan memengaruhi apa yang mereka bayangkan.

“Efek negatifnya traumatis, tapi sebenarnya nggak akan terjadi di semua anak, tergantung karakter anak. Tapi secara garis besar memang sebaiknya anak tidak perlu melihat-lihat (foto korban pembunuhan sadis),” kata Ratih.

Lanjut Ratih, protektor utama adalah orangtua. Untuk itu, sebaiknya anak jangan dibiarkan terlalu banyak terpapar informasi yang mengandung unsur-unsur kejahatan.

“Jangan terlalu informatif, apalagi ini case-nya pembunuhan, bukan perampokan murni, khawatir anak jadi trauma sendiri,” tutur dia.

Realitanya memang sulit mengontrol media sosial ataupun orang yang mengunggah gambar tersebut. Akan tetapi, orangtua tetap wajib bertanggung jawab memantau penggunaan media sosial pada anak.

“Kita mesti hati-hati ketika meminjamkan gadget kita, karena anak itu punya keinginan tinggi. Kita bisa selektif atau hapus dulu histori di gadget,” ucap Ratih yang juga berpraktik di RaQQi – Human Development & Learning Centre, Jakarta.

Kata Ratih, anak-anak di bawah usia sepuluh  tahun masih dalam fase berpikir konkret, belum bisa menganalisis sesuatu atau kejadian secara utuh. Itu makanya mereka sebaiknya tidak terpapar secara masif kabar yang mengandung kekerasan ataupun kejahatan sadis.

Lantas bagaimana jika anak telanjur melihat foto-foto sadis tersebut?

Ratih menjawab, sebaiknya respon yang diberikan oleh orangtua tersebut adalah dengan tidak melebih-lebihkannya.

“Tergantung orang dewasa merespons. Sudah kadung dilihat, responsnya biasa saja, nggak usah dibesar-besarkan, itu kondisi yang tidak perlu didramatisir dan diceritakan secara detail,” ucap Ratih.

ADA BERITA UNIK DAN MENARIK SCROLL KE BAWAH www.REPUBLIK.in
Sumber Berita : detik.com

close
https://t.me/republikin