Pengamat: Revolusi Mental adalah 'Slogan' Era Komunis Tahun 1948


Republik.in ~ Berikut ini Pendapat dari Ferdinand Hutahaean, Aktifis Rumah Amanah Rakyat dan Bela Tanah Air.

REVOLUSI mental bukanlah hal baru dan bukan kalimat yang baru muncul. Revolusi mental juga bukan sebuah idiom yang ditorehkan oleh Jokowi, meski memang menjadi tenar dan menjadi jargon bagi dia saat Pilpres 2014.

Revolusi mental adalah sesuatu yang biasa diucapkan era Komunis 1948 dimana Partai Komunis Indonesia sedang tumbuh dengan suburnya. Adalah DN Aidit yang menyatakan bahwa agama adalah candu, maka revolusi mental tidak akan pernah berhasil jika rakyat tidak dijauhkan dengan agama.

Revolusi mental menjadi sangat penting bagi perjuangan komunis. Revolusi mental yang digagas komunis adalah sebuah langkah strategis maupun taktis untuk merubah mental rakyat yang terbius oleh agama. Agama telah menjadi jalan keluar bagi pemerintah untuk membius rakyat hingga lupa dengan penderitaan dan kegagalan pemerintah mensejaterakan rakyat.

Itulah yang melandasi Karl Max (Leluhur Komunis) untuk menggerakkan rakyat dengan revolusi mental untuk bangkit melawan pemerintah. Disitulah titik point revolusi mental supaya rakyat berani dan bangkit menuntut haknya kepada Negara atau kepada penguasa.

Ajaran komunis ortodox meyakini bahwa musuh rakyat atau musuh kaum proletar ada dua. Pertama adalah Negara. Negara yang tidak berpaham komunis dianggap akan menindas rakyat.

Kedua adalah agama. Agama dianggab candu yang membius rakyat hingga menjadi terlena. Maka kedua musuh komunis itu harus dilawan dan dienyahkan. Negara harus direbut untuk dikuasai dan kemudian menjadi negara komunis. Untuk itulah kemudian dibutuhkan mental yang kuat dan keberanian yang kuat untuk melawan negara dan merebut negara.

Itulah sebabnya mengapa kemudian diperlukan revolusi mental untuk mewujudkan tujuan revolusi komunis. Maka agama harus dipisahkan dari politik.

Itulah revolusi mental ala komunis. Saya ingin mengajak kita semua membandingkan situasinya dengan kondisi sejak pra pilpres 2014, pilpres 2014 hingga era sekarang.

Pada era Jokowi setelah berhasil memenangi pilpres 2014 dan merebut kekuasaan negara dengan mengalahkan Prabowo dengan jargon revolusi mental, tiba-tiba muncul pernyataan presiden yang meminta pemisahan agama dengan politik. Pernyataan itu sontak menjadi kontroversi di tengah publik karena membuka memori publik terhadap pemisahan politik dengan agama ala komunis.

Pernyataan itu sontak mendapat penolakan dari publik karena dianggab sebagai kebangkitan sekulerisme, dianggap juga berbau komunis. Sekulerisme dan komunisme bukanlah sesuatu yang lahir dari perut ibu pertiwi, sehingga pernyataan tersebut dianggab tidak pantas oleh publik diucapkan seorang presiden.

Jargon revolusi mental Jokowi pun menjadi sorotan meski sekarang jargon itu berbeda dengan jargon asalnya setelah Jokowi berhasil merebut kekuasaan. Ketika dulu revolusi mental diangkat untuk membangkitkan semangat perlawanan, namun setelah berkuasa, revolusi mental dijadikan alat meninabobokan rakyat. Mengganti agama dengan revolusi mental untuk membuat rakyat terlena dan kehilangan semangat perlawanan. Revolusi Mental kemudian menjadi candu yang membius rakyat hingga terlena dengan janji-janji yang bersifat ilusi.

Revolusi mental yang awalnya digunakan untuk kebangkitan perlawanan, maka sekarang bertransformasi menjadi candu yang membius. Menjadi wajar kemudian jika presiden Jokowi ingin memisahkan agama dengan politik.

Melihat rakyat kini bangkit melawan berdasar kekuatan agama, melihat aksi 411 dan 212 yang dilakukan oleh umat Islam tahun lalu menjadi fenomena yang ditakutkan penguasa. Terjadi sebuah situasi yang berbalik. Dulu agama meninabobokan, sekarang agama yang membangkitkan semangat perlawanan. Dulu revolusi mental untuk membangkitkan perlawanan, sekarang menjadi candu meninabobokan rakyat untuk tidak bangkit melawan. Maka menjadi masuk akal ketika Jokowi sebagai penguasa berpikir mengapa agama harus dijauhkan dari politik.

Karenanya, sesungguhnya, saya melihat ini pertarungan antara revolusi mental dengan agama.

Ferdinand Hutahaean
Aktif di Rumah Amanah Rakyat
ADA BERITA UNIK DAN MENARIK SCROLL KE BAWAH
Sumber Berita : Rmol.co
close
https://t.me/republikin