Demi Allah, Kutuk Saya Kalau Terima 1 Rupiah dari Korupsi EKTP


Republik.in ~ Kasus korupsi proyek e-KTP kembali menjalani babak lanjutan dalam proses pengadilannya.

Persidangan kembali dilanjutkan untuk mengungkap tabir megakorupsi e-KTP pada, Kamis (16/3). Delapan saksi dihadirkan dalam persidangan. Di antaranya Mantan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, mantan ketua Komisi II DPR Chairuman Harahap, mantan Sekjen Kemendagri Diah Anggraeni. Berikut momen demi momen dari dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Beberapa kesaksian Gamawan di persidangan kasus korupsi e-KTP sangat bertentangan dengan apa yang berada di dalam dakwaan KPK.

Berikut beberapa kesaksian Gamawan dibandingakan dengan dakwaan KPK.

Kesaksian Gamawan Fauzi Terkait penerimaan uang di proyek e-KTP

"Satu rupiah saya tidak terima yang mulia. Demi Allah saya tidak menerima satu rupiah pun. Dan saya kalau mengkhianati bangsa ini kalau menerima satu rupiah pun saya minta didoakan seluruh rakyat Indonesia agar dikutuk oleh Allah. Tapi saya juga minta apabila ada yang memfitnah saya minta diberi petunjuk oleh Allah SWT," jelas Gamawan.

Dari dakwaan dua mantan pejabat Kemendagri Irman dan Sugiharto, disebutkan bahwa pada bulan Maret 2011 Andi Narogong memberikan uang kepada Gamawan Fauzi melalui Afdal Noverman sejumlah USD 2 juta dengan maksud agar pelelangan Pekerjaan Penerapan e-KTP tidak dibatalkan oleh Gamawan.

Untuk memperlancar proses penetapan pemenang lelang, pada pertengahan Juni 2011 Andi Narogong kembali memeberikan uang kepada GAmawanFauzi melalui saudaranya yaitu Azmin Aulia sejumlah USD 2,5 juta.

Selain itu di dalam dakwaan dikatakan bahwa Gamawan Fauzi di duga mendapatkan keuntungan dari korporasi yang dilakukan oleh Irman dan Sugiharto sebesar USD 4,5 juta dan Rp 50 juta.

Sanggahan Gamawan Fauzi Terkait Uang Rp 50 juta

Gamawan Fauzi diduga menerima uang sejumlah Rp 50 juta, namun dirinya membantah hal tersebut.

"Saya baca disebut-sebut menerima Rp 50 juta untuk 5 daerah. Saya perlu clear-kan ini. Karena banyak yang tanya ini pada saya. Uang itu honorer saya pembicara di lima provinsi. Karena menurut aturan satu jam menteri bicara 1 jam itu Rp 5 juta. Kalau saya bicara dua jam Rp 10 juta. Saya di lima provinsi. Itu honorer resmi yang saya tanda tangani yang mulia. Bukan uang dikasih,"

Namun, dalam dakwaan KPK dikatakan bahwa sejumlah uang yang diterima oleh Irman selain digunakan untuk kepentingan pribadi Irman. uang tersebut juga dibagikan kepada beberapa orang termasuk Gamawan Fauzi berjumlah Rp 50 juta yang diberikan pada saat kunjungan kerja di Balikpapan, Batam, Kendari, Papua dan Sulawesi.

q1d5vg7vpsz4ocy2caym

Gamawan, saksi sidang e-KTP. (Foto:Antara/Wahyu Putro A)
Gamawan Fauzi pun membantah mengenal sosok Andi Agustinus alias Andi Narogong

Hakim Jhon Halasan Butar juga sempat menanyakan, apakah Gamawan memiliki hubungan khusus dengan Andi Agustinus alias Andi Narogong, yang disebut jaksa sebagai pihak penyuap.

"Saya liat di BAP beberapa kali, Anda lakukan pertemuan dengan anggota Dewan? ada pertemuan dengan Andi Agustinus, kenal?"

Gamawan pun sontak menjawab, "Tidak sama sekali."

Sedangan dalam dakwaan KPK pada bulan Mei 2010 di ruang kerja komisi II DPR RI, Irman melakukan pertemuan dengan Gamawan Fauzi, Diah Anggraeni, Chairuman Harahap, Ganjar Pranomo, Taufik Efendi, Teguh Juwarno, Igantius Mulyono, Mustoko Weni, Arif Wibowo, M. Nazaruddin dan Andi Agustinus.

Dalam persidangan hari Kamis (16/3), Gamawan bahkan sempat mengutarakan jika dirinya siap dikutuk dan disumpahi oleh rakyat Indonesia jika menerima uang dari proyek e-KTP.

Saya minta kepada seluruh rakyat Indonesia untuk sumpahin saya mati saat ini juga. Kutuk saya kalau saya terbukti menerima 1 sen dari uang yang, Yang Mulia sebutkan itu

- Gamawan Fauzi
ADA BERITA UNIK DAN MENARIK SCROLL KE BAWAH
Sumber Berita : Kumparan.com
close
https://t.me/republikin