Cantik Berjilbab, Wanita Ini Bawa Benda Terlarang di Bandara


Republik.in ~ Kamelia alias Lia terlihat menangis tak henti-henti. Dia sepertinya menyesali perbuatannya pada Januari lalu yang nekat membawa pil ekstasi dan sabu-sabu ke Balikpapan.

Namun belum sempat dia membawa barang haram itu, dia terganjal di pintu x-ray kedua Bandara Hang Nadim, Batam. Karena ada benda logam yang terpasang di badannya. Sehingga tubuhnya yang berbalutan baju dan jilbab syar’i harus digeledah petugas Avsec. Ternyata di balik baju itu, terdapat narkoba.

Hal itu terungkap dari penuturan petugas Avses Bandara Hang Nadim Batam saat menjadi saksi perkara Lia di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Kamis (23/3).

Pada sidang yang dipimpin Hakim Ketua Syahrial dan didampingi anggota Taufiq dan Chandra itu, saksi menjelaskan Lia membawa pil ekstasi sebanyak 2.000 butir dan 24 gram sabu. Semua itu disimpan di balik pakaian dalam atas (bra) dan di celana dalam.

Tiga saksi dari Avsec Bandara Hang Nadim Batam menjelaskan, terdakwa ditangkap saat melewati pintu pemeriksaan kedua di Bandara Hang Nadim, Januari lalu. “Terdakwa hendak berangkat ke Balikpapan,” sebut salah satu saksi seperti dilansir Batam Pos (Jawa Pos Group), Jumart (24/3).

Dijelaskan, terdakwa memakai kalung dan gelang (logam) yang menimbulkan bunyi mesin pemeriksa, sehingga harus dilepaskan. Terdakwa yang mengenakan pakaian syar’i itu, mulai tampak mencurigakan karena mencoba mengelak untuk diperiksa. “Ketika diperiksa bagian badan, terasa ada yang mengganjal di bagian dadanya,” lanjut saksi.

Hingga terdakwa dibawa ke toilet oleh Avsec wanita, terdapat satu paket pil ekstasi di buah dada sebelah kanan, satu paket pil ekstasi di buah dada sebelah kiri, dan satu paket sabu di kemaluan bawah terdakwa.

Ditemukannya barang bukti tersebut, terdakwa langsung diserahkan ke pihak berwajib. Keterangan para saksi turut dibenarkan terdakwa.

Dia mengaku tergiur dengan upah yang dijanjikan seseorang yang dipanggilnya Mbak (DPO), yang memerintahkan untuk mengantarkan barang tersebut ke Balikpapan. “Saya dijanjikan upah Rp 10 juta jika berhasil mengantarkan barang tersebut,” ujar terdakwa.

Sebagai biaya transportasi, terdakwa telah menerima uang di transfer ke rekeningnya sebesar Rp 9 juta. Namun uang itu tidak termasuk upah yang akan terdakwa terima setelah barang diterima pembeli.

Dia menyebutkan, uang itu akan digunakan untuk mengembangkan usaha sembako dari almarhum kakaknya. Dengan instruksi yang hanya melalui ponsel, terdakwa dengan Mbak (DPO) tidak pernah bertemu.

“Saya tidak pernah jumpa Mbak. Waktu ambil barang, disuruh ambil di Halte Politeknik. Barang ada di kantong kresek warna hitam,” paparnya.

Untuk posisi barang bukti tersebut di bagian intim terdakwa, ia mengaku telah diarahkan oleh Mbak melalui telepon. “Saya tidak tahu akan menemui siapa di Balikpapan. Kata Mbak, kalau sudah sampai dihubungi lagi,” ucapnya tersedu-sedu.
ADA BERITA UNIK DAN MENARIK SCROLL KE BAWAH
Sumber Berita : Jawapos.com
close
https://t.me/republikin